Pengertian dan Prinsip Pendidikan Orang Dewasa

Rabu, 12 Maret 2014

Pendidikan dewasa suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup. Pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah. Ditinjau dari segi umur, seseorang yang berumur antara 16-18 tahun dapat dikatakan sebagai orang dewasa. Ditinjau juga dari ciri-ciri psikologis, seorang yang dapat mengarahkan diri sendiri, tidak selalu tergantung pada orang lain, mau bertanggung jawab, mandiri, berani mengambil risiko, dan mempu mengambil keputusan,  orang tersebut dikatakan telah dewasa secara psikologis. Sedangkan ditinjau dari ciri-ciri biologis, seseorang yang telah menunjukkan tanda-tanda kelamin sekunder, orang tersebut dikatakan telah dewasa secara biologis.
UNESCO (Townsend Coles, 1977 dalam Lanundi, 1982) mendefinisikan pendidikan orang dewasa sebagai berikut, keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apa pun isi, tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas.
Menurut Reeves, Fansler, dan Houle menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa adalah usaha yang ditunjukan untuk pengembangan diri yang dilakukan oleh individu tanpa paksaan legal, tanpa usaha menjadikan bidang utama kegiatannya. Selain itu, ada juga yang termasuk pendidikan orang dewasa yaitu, (1) pendidikan bekal kerja, (2) pendidikan jiwa baru dan kerohanian, (3) pendidikan kader, (4) pendidikan yang bersifat rekreatif apresiatif dan kesegaran jasmani (Faisal, 1981)
Berdasarkan pemaparan diatas dapat dirangkum bahwa: 
Pendidikan orang dewasa yaitu menggunakan sebagian waktunya dan tanpa dipaksa ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikapnya dalam rangka pengembangan dirinya sebagai individu dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya secara seimbang dan utuh.
Pada prinsip pendidikan orang dewasa merupakan hal yang penting yang perlu diperthatikan dalam melaksanakan pendidikan orang dewasa. Prinsip-prinsip orang dewasa terdiri dari: hukum belajar, penetapan tujuan, pemilihan materi, pengembangan sikap, idealisme, minat, mengembangkan kemampuan mempertimbangkan atau menilai, kemampuan manipulatif atau psikomotorik, kemampuan berpikir atau memecahkan masalah, dan pembentukan kebiasaan.
a)      Hukum Belajar
Hukum belajar (law of learnig) dimana orang belajar dan kondisi yang dapat meningkatkan hasil belajar. Hukum belajar terdieri atas beberapa unsur yaitu (1) keinginan belajar, (2) pengertian terhadap tugas, (3) hukum latihan, (4) hukum akibat, (5) hukum asosiasi, (6) rasa tertarik, keuletan, dan intensitas, (7) kesiapan hati, (8) pengetahuan akan keberhasilan dan kegagalan.
b)      Penetapan Tujuan
Kunci keberhasilan dalam pendidikan orang dewasa adalah mempunyai tujuan yang khusus tentang perilaku maupun performansi yang jelas dan bergerak menuju ke tujuan tersebut secara konsisten.
c)      Mengembangkan Sikap, Idealisme, dan Minat.
Sikap, idealisme, minat, dan selera adalah dasar tujuan khusus ranah afektif dan merupakan suatu kualitas emosi yang penting.Hal ini penting untuk mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan emosi menghadapi situasi hidup sehhari-hari. Emosi yang terkendali akan dapat memberikan warna, semangat dan kebahagiaan hidup. Lebih lanjut pengembangan sikap diarahkan untuk mengembangkan ke arah yang positif sesuai dengan norma masyarakat, pada pengembangan idealisme yaitu melalui bacaan, diskusi, pengamatan, dan bimbingan dan pada pengembangan minat diarahkan pada minat untuk belajar, dimana semakin besar minatnya, maka semakin besar semangatnya dan akan besar juga hasil kerjanya.
d)     Mengembangkan Kemampuan Manipulatif atau Psikomotor
Langkah mengembangkan maniputaltif yaitu mempersiapkan peserta didik, mengajarkan materi yang perlu diajarkan, meminta peserta didik untuk mempraktikkan, dan melaksanakan tindak lanjut.
e)      Kemampuan Berpikir atau Memecahkan Masalah
Kemampuan yang terpenting dari semua kemampuan yang ada. Tahapannya dalah pengenalan problema, pemebuatan daftar kemungkinan pemecahan masalah, pengumpulan semua fakta, pengorganisasisan, penetapan kesimpulan tentatif, perbaikan semua kelemahan, dan pembuatan kesimpulan akhir.
f)       Pembentukan Kebiasaan
     Pembentukan kebiasaan yang baik bagi orang dewasa merupakan hal yang penting dilakukan. cara yang biasa dilakukan untuk membentuk kebiasaan baru yaitu, (1) menemukan konsep kebiasaan baru, (2) memulai dengan kemauan yang kuat, (3) jangan membiarkan pengecualian sampai kebiasaan baru benar-benar berakar, (4) melakukan latihan pada setiap kesempatan, (5)melakukan latihan sesempurna mungkin, (6) mengatur situasi sehingga menyenangkan, dan (7) pembentukan kebiasaan baru seyogianya dari dorongan diri sendiri


0 komentar:

Posting Komentar

Rabu, 12 Maret 2014

Pengertian dan Prinsip Pendidikan Orang Dewasa

Pendidikan dewasa suatu proses yang menumbuhkan keinginan untuk bertanya dan belajar secara berkelanjutan sepanjang hidup. Pendidikan orang dewasa berlangsung dalam bentuk pengarahan diri sendiri untuk memecahkan masalah. Ditinjau dari segi umur, seseorang yang berumur antara 16-18 tahun dapat dikatakan sebagai orang dewasa. Ditinjau juga dari ciri-ciri psikologis, seorang yang dapat mengarahkan diri sendiri, tidak selalu tergantung pada orang lain, mau bertanggung jawab, mandiri, berani mengambil risiko, dan mempu mengambil keputusan,  orang tersebut dikatakan telah dewasa secara psikologis. Sedangkan ditinjau dari ciri-ciri biologis, seseorang yang telah menunjukkan tanda-tanda kelamin sekunder, orang tersebut dikatakan telah dewasa secara biologis.
UNESCO (Townsend Coles, 1977 dalam Lanundi, 1982) mendefinisikan pendidikan orang dewasa sebagai berikut, keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, apa pun isi, tingkatan, metodenya, baik formal atau tidak, yang melanjutkan maupun menggantikan pendidikan semula di sekolah, akademi dan universitas serta latihan kerja, yang membuat orang yang dianggap dewasa oleh masyarakat mengembangkan kemampuannya, memperkaya pengetahuannya, meningkatkan kualifikasi teknis atau profesionalnya, dan mengakibatkan perubahan pada sikap dan perilakunya dalam perspektif rangkap perkembangan pribadi secara utuh dan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya yang seimbang dan bebas.
Menurut Reeves, Fansler, dan Houle menyatakan bahwa pendidikan orang dewasa adalah usaha yang ditunjukan untuk pengembangan diri yang dilakukan oleh individu tanpa paksaan legal, tanpa usaha menjadikan bidang utama kegiatannya. Selain itu, ada juga yang termasuk pendidikan orang dewasa yaitu, (1) pendidikan bekal kerja, (2) pendidikan jiwa baru dan kerohanian, (3) pendidikan kader, (4) pendidikan yang bersifat rekreatif apresiatif dan kesegaran jasmani (Faisal, 1981)
Berdasarkan pemaparan diatas dapat dirangkum bahwa: 
Pendidikan orang dewasa yaitu menggunakan sebagian waktunya dan tanpa dipaksa ingin meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan mengubah sikapnya dalam rangka pengembangan dirinya sebagai individu dan meningkatkan partisipasi dalam pengembangan sosial, ekonomi, dan budaya secara seimbang dan utuh.
Pada prinsip pendidikan orang dewasa merupakan hal yang penting yang perlu diperthatikan dalam melaksanakan pendidikan orang dewasa. Prinsip-prinsip orang dewasa terdiri dari: hukum belajar, penetapan tujuan, pemilihan materi, pengembangan sikap, idealisme, minat, mengembangkan kemampuan mempertimbangkan atau menilai, kemampuan manipulatif atau psikomotorik, kemampuan berpikir atau memecahkan masalah, dan pembentukan kebiasaan.
a)      Hukum Belajar
Hukum belajar (law of learnig) dimana orang belajar dan kondisi yang dapat meningkatkan hasil belajar. Hukum belajar terdieri atas beberapa unsur yaitu (1) keinginan belajar, (2) pengertian terhadap tugas, (3) hukum latihan, (4) hukum akibat, (5) hukum asosiasi, (6) rasa tertarik, keuletan, dan intensitas, (7) kesiapan hati, (8) pengetahuan akan keberhasilan dan kegagalan.
b)      Penetapan Tujuan
Kunci keberhasilan dalam pendidikan orang dewasa adalah mempunyai tujuan yang khusus tentang perilaku maupun performansi yang jelas dan bergerak menuju ke tujuan tersebut secara konsisten.
c)      Mengembangkan Sikap, Idealisme, dan Minat.
Sikap, idealisme, minat, dan selera adalah dasar tujuan khusus ranah afektif dan merupakan suatu kualitas emosi yang penting.Hal ini penting untuk mengembangkan kemampuan untuk mengendalikan emosi menghadapi situasi hidup sehhari-hari. Emosi yang terkendali akan dapat memberikan warna, semangat dan kebahagiaan hidup. Lebih lanjut pengembangan sikap diarahkan untuk mengembangkan ke arah yang positif sesuai dengan norma masyarakat, pada pengembangan idealisme yaitu melalui bacaan, diskusi, pengamatan, dan bimbingan dan pada pengembangan minat diarahkan pada minat untuk belajar, dimana semakin besar minatnya, maka semakin besar semangatnya dan akan besar juga hasil kerjanya.
d)     Mengembangkan Kemampuan Manipulatif atau Psikomotor
Langkah mengembangkan maniputaltif yaitu mempersiapkan peserta didik, mengajarkan materi yang perlu diajarkan, meminta peserta didik untuk mempraktikkan, dan melaksanakan tindak lanjut.
e)      Kemampuan Berpikir atau Memecahkan Masalah
Kemampuan yang terpenting dari semua kemampuan yang ada. Tahapannya dalah pengenalan problema, pemebuatan daftar kemungkinan pemecahan masalah, pengumpulan semua fakta, pengorganisasisan, penetapan kesimpulan tentatif, perbaikan semua kelemahan, dan pembuatan kesimpulan akhir.
f)       Pembentukan Kebiasaan
     Pembentukan kebiasaan yang baik bagi orang dewasa merupakan hal yang penting dilakukan. cara yang biasa dilakukan untuk membentuk kebiasaan baru yaitu, (1) menemukan konsep kebiasaan baru, (2) memulai dengan kemauan yang kuat, (3) jangan membiarkan pengecualian sampai kebiasaan baru benar-benar berakar, (4) melakukan latihan pada setiap kesempatan, (5)melakukan latihan sesempurna mungkin, (6) mengatur situasi sehingga menyenangkan, dan (7) pembentukan kebiasaan baru seyogianya dari dorongan diri sendiri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar