PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Minggu, 30 Januari 2011

Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.

Adapun tokoh-tokoh perintis munculnya psikologi pendidikan adalah sebagai berikut:

1. William James. Menurutnya, pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat di atas pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak agar lebih baik lagi.

2. John Dewey. Menurutnya, anak sebaiknya belajar sebagai pembelajar aktif bukan hanya diam duduk di kursi sambil mendengarkan saja. Selanjutnya Dewey menyarankan bahwa pendidikan seharusnya juga difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu, Dewey mengatakan bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan bukan hanya pendidikan akademik saja tetapi belajar berpikir dan beradaptasi yang selayaknya.
3. E.L. Thorndike. Menurutnya, salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak.

CARA MENGAJAR YANG EFEKTIF
Mengajar adalah hal yang komplek. Karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikan secara fleksibel.

I.                   Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Guru yang efektif memiliki strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran, dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-muridnya.

-          Penguasaan Materi Pelajaran.Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi.
-          Strategi Pengajaran. Prinsip Konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey. Menurut prinsip ini, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis.
-          Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional. Guru yang efektif harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
-          Keahlian Manajemen Kelas. Guru yang efektif harus mampu membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.Keahlian Motivasional. Guru yang efektif selalu mempunyai strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.
-         Keahlian Komunikasi. Guru yang efektif bisa berkomunikasi dengan baik kepada semua muridnya.
-        Bekerja Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan. Guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitive terhadap kebutuhan mereka.
-       Keahlian Teknologi. Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan computer ke dalam proses belajar di kelas.


II .       Komitmen dan Motivasi
Menjadi guru yang efektif  juga membutuhkan sebuah komitmen dan motivasi.komitmen dan motivasi dapat membantu guru yang efektif untuk melewati masa-masa yang sulit dan melelahkan dalam mengajar Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid.

RISET DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Riset bisa menjadi sumber informasi berharga untuk memahami strategi mengajar. Kita semua mendapatkan banayak pelajaran dari pengalaman kita sendiri. pengalaman bisa membuat Anda menjadi guru yang efektif. Selain itu, riset yang memberikan informasi yang valid tentang cara terbaik untuk mengajar bisa membuat Anda menjadi guru yang lebih baik. Itulah pentingnya adanya riset dalam psikologi pendidikan.

Pendekatan Riset Ilmiah
Riset ilmiah adalah riset objektif, sistematis, dan dapat diuji. Riset ilmiah dilandaskan pada metode ilmiah, sebuah pendekatan yang dapat dipakai untuk menemukan informasi yang akurat. Pendekatan ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu: merumuskan masalah, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, serta merevisi kesimpulan dan teori riset.

Dalam mengumpulkan data/informasi sendiri, ada 3 metode dasar yang dipakai dalam psikologi pendidikan, yaitu:
1. Riset Deskriptif. Tujuannya mengamati dan mencatat perilaku.bisa membuktikan penyebab dari suatu fenomena, tetapi bisa mengungkapkan informasi penting tentang perilaku dan sikap orang.
-          Observasi : melakukan kegiatan pengamatan secara ilmiah untuk hal yang ingin diteliti dan selanjutnya dicatat dengan menggunakan simbol atau ringkasan (bisa juga menggunakan tape recorder dan sebagainya).
-          Wawancara dan Kuesioner : mengumpulkan informasi dengan cara bertanya secara langsung.
-          Tes Standar : tes dengan prosedur administrasi dan penilaian yang seragam.
-          Studi Kasus : kajian mendalam terhadap seorang individu yang sering dipakai ketika terdapat situasi yang unik dalam kehidupan seseorang yang tidak dapat diduplikasi.
-          Studi Etnografik : deskripsi mendalam dan interpretasi terhadap perilaku dalam suatu etnis atau kelompok kultural yang melibatkan keterlibatan langsung dengan partisipan.
2. Riset Korelasional. Tujuannya mendeskripsikan kekuatan hubungan antara dua atau lebih kejadian atau karakteristik.
3. Riset Eksperimental. Dengan riset ini ahli psikologi pendidikan bisa menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya suatu perilaku.

Ada beberapa jenis rentang waktu riset, yaitu:
1. Riset cross-sectional : mempelajari kelompok orang pada satu waktu
2. Riset longitudinal : mempelajari individu-individu yang sama selama periode waktu tertentu, biasanya berapa tahun atau lebih.

Metode yang sama juga dapat diterapkan untuk riset yang bertujuan lebih spesifik, yaitu:
-          Riset Evaluasi Program : untuk membuat keputusan tentang efektivitas suatu program tertentu.
-          Riset Aksi : riset yang dipakai untuk memecahkan problem sekolah atau kelas tertentu, meningkatkan pengajaran dan strategi pendidikan lainnya, atau untuk membuat keputusan di level tertentu.
  
 III.             Guru sebagai Periset
Konsep yang menyatakan bahwa guru kelas dapat melakukan riset sendiri untuk meningkatkan mutu praktik pengajaran mereka.
-          Saat anda merencanakan cara pengajaran, pikiran tentang murid-murid anda akan pikirkan siapa saja yang mungkin akan mendapatkan banyak manfaat dari peran anda sebagai guru-periset
-          Ambil kursus metode riset pendidikan
-          Manfaatkan perpustakaan dan sumber daya internet untuk mengetahui lebih banyak tentang keahlian guru-periset.
-          Mintalah orang lain(misalnya rekan guru anda) untuk mengamati kelas anda dan membantu anda menyusun strategi untuk riset problem tertentu yang ingin anda pecahkan.

Riset di bidang psikologi pendidikan menghadapi sejumlah tantangan. Kita dapat melihatnya dari berbagai aspek, yaitu:
-          Etika. Ahli psikologi pendidikan harus berhati-hati dalam memastikan kesehatan dan keamanan anak yang berpartisipasi dalam studi riset.
-           Gender. Banyak sekali pakar gender percaya bahwa banyak pendidikan dan riset mengandung bias gender. Periset pendidikan menyatakan bahwa sudah lama perempuan diposisikan di bawah lelaki.
-          Etnis dan Kultur. Kita perlu memasukkan lebih banyak anak dari keluarga etnis yang minoritas dalam riset psikologi pendidikan kita. Secara historis, anak etnis minoritas diabaikan dalam riset atau sekadar dianggap sebagai variasi dari norma atau kelaziman.

0 komentar:

Posting Komentar

Minggu, 30 Januari 2011

PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mengkhususkan diri pada cara memahami pengajaran dan pembelajaran dalam lingkungan pendidikan.

Adapun tokoh-tokoh perintis munculnya psikologi pendidikan adalah sebagai berikut:

1. William James. Menurutnya, pentingnya mempelajari proses belajar dan mengajar di kelas guna meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu rekomendasinya adalah mulai mengajar pada titik yang sedikit lebih tinggi di atas tingkat di atas pengetahuan dan pemahaman anak dengan tujuan untuk memperluas cakrawala pemikiran anak agar lebih baik lagi.

2. John Dewey. Menurutnya, anak sebaiknya belajar sebagai pembelajar aktif bukan hanya diam duduk di kursi sambil mendengarkan saja. Selanjutnya Dewey menyarankan bahwa pendidikan seharusnya juga difokuskan pada anak secara keseluruhan dan memperkuat kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungan. Selain itu, Dewey mengatakan bahwa semua anak berhak mendapat pendidikan bukan hanya pendidikan akademik saja tetapi belajar berpikir dan beradaptasi yang selayaknya.
3. E.L. Thorndike. Menurutnya, salah satu tugas pendidikan di sekolah yang paling penting adalah menanamkan keahlian penalaran anak.

CARA MENGAJAR YANG EFEKTIF
Mengajar adalah hal yang komplek. Karena murid-murid itu bervariasi, maka tidak ada cara tunggal untuk mengajar yang efektif untuk semua hal. Guru harus menguasai beragam perspektif dan strategi, dan harus bisa mengaplikasikan secara fleksibel.

I.                   Pengetahuan dan Keahlian Profesional
Guru yang efektif menguasai materi pelajaran dan keahlian atau keterampilan mengajar yang baik. Guru yang efektif memiliki strategi pengajaran yang baik dan didukung oleh metode penetapan tujuan, rancangan pengajaran, dan manajemen kelas. Mereka tahu bagaimana memotivasi, berkomunikasi, dan berhubungan secara efektif dengan murid-muridnya.

-          Penguasaan Materi Pelajaran.Guru yang efektif harus berpengetahuan, fleksibel, dan memahami materi.
-          Strategi Pengajaran. Prinsip Konstruktivisme adalah inti dari filsafat pendidikan William James dan John Dewey. Menurut prinsip ini, guru bukan sekedar memberi informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung, dan berpikir secara kritis.
-          Penetapan Tujuan dan Keahlian Perencanaan Instruksional. Guru yang efektif harus menentukan tujuan pengajaran dan menyusun rencana untuk mencapai tujuan itu.
-          Keahlian Manajemen Kelas. Guru yang efektif harus mampu membangun dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif.Keahlian Motivasional. Guru yang efektif selalu mempunyai strategi yang baik untuk memotivasi murid agar mau belajar.
-         Keahlian Komunikasi. Guru yang efektif bisa berkomunikasi dengan baik kepada semua muridnya.
-        Bekerja Secara Efektif dengan Murid dari Latar Belakang Kultural yang Berlainan. Guru yang efektif harus mengetahui dan memahami anak dengan latar belakang kultural yang berbeda-beda, dan sensitive terhadap kebutuhan mereka.
-       Keahlian Teknologi. Guru yang efektif mengembangkan keahlian teknologi dan mengintegrasikan computer ke dalam proses belajar di kelas.


II .       Komitmen dan Motivasi
Menjadi guru yang efektif  juga membutuhkan sebuah komitmen dan motivasi.komitmen dan motivasi dapat membantu guru yang efektif untuk melewati masa-masa yang sulit dan melelahkan dalam mengajar Aspek ini mencakup sikap yang baik dan perhatian kepada murid.

RISET DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN
Riset bisa menjadi sumber informasi berharga untuk memahami strategi mengajar. Kita semua mendapatkan banayak pelajaran dari pengalaman kita sendiri. pengalaman bisa membuat Anda menjadi guru yang efektif. Selain itu, riset yang memberikan informasi yang valid tentang cara terbaik untuk mengajar bisa membuat Anda menjadi guru yang lebih baik. Itulah pentingnya adanya riset dalam psikologi pendidikan.

Pendekatan Riset Ilmiah
Riset ilmiah adalah riset objektif, sistematis, dan dapat diuji. Riset ilmiah dilandaskan pada metode ilmiah, sebuah pendekatan yang dapat dipakai untuk menemukan informasi yang akurat. Pendekatan ini terdiri dari beberapa langkah, yaitu: merumuskan masalah, mengumpulkan data, menarik kesimpulan, serta merevisi kesimpulan dan teori riset.

Dalam mengumpulkan data/informasi sendiri, ada 3 metode dasar yang dipakai dalam psikologi pendidikan, yaitu:
1. Riset Deskriptif. Tujuannya mengamati dan mencatat perilaku.bisa membuktikan penyebab dari suatu fenomena, tetapi bisa mengungkapkan informasi penting tentang perilaku dan sikap orang.
-          Observasi : melakukan kegiatan pengamatan secara ilmiah untuk hal yang ingin diteliti dan selanjutnya dicatat dengan menggunakan simbol atau ringkasan (bisa juga menggunakan tape recorder dan sebagainya).
-          Wawancara dan Kuesioner : mengumpulkan informasi dengan cara bertanya secara langsung.
-          Tes Standar : tes dengan prosedur administrasi dan penilaian yang seragam.
-          Studi Kasus : kajian mendalam terhadap seorang individu yang sering dipakai ketika terdapat situasi yang unik dalam kehidupan seseorang yang tidak dapat diduplikasi.
-          Studi Etnografik : deskripsi mendalam dan interpretasi terhadap perilaku dalam suatu etnis atau kelompok kultural yang melibatkan keterlibatan langsung dengan partisipan.
2. Riset Korelasional. Tujuannya mendeskripsikan kekuatan hubungan antara dua atau lebih kejadian atau karakteristik.
3. Riset Eksperimental. Dengan riset ini ahli psikologi pendidikan bisa menentukan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya suatu perilaku.

Ada beberapa jenis rentang waktu riset, yaitu:
1. Riset cross-sectional : mempelajari kelompok orang pada satu waktu
2. Riset longitudinal : mempelajari individu-individu yang sama selama periode waktu tertentu, biasanya berapa tahun atau lebih.

Metode yang sama juga dapat diterapkan untuk riset yang bertujuan lebih spesifik, yaitu:
-          Riset Evaluasi Program : untuk membuat keputusan tentang efektivitas suatu program tertentu.
-          Riset Aksi : riset yang dipakai untuk memecahkan problem sekolah atau kelas tertentu, meningkatkan pengajaran dan strategi pendidikan lainnya, atau untuk membuat keputusan di level tertentu.
  
 III.             Guru sebagai Periset
Konsep yang menyatakan bahwa guru kelas dapat melakukan riset sendiri untuk meningkatkan mutu praktik pengajaran mereka.
-          Saat anda merencanakan cara pengajaran, pikiran tentang murid-murid anda akan pikirkan siapa saja yang mungkin akan mendapatkan banyak manfaat dari peran anda sebagai guru-periset
-          Ambil kursus metode riset pendidikan
-          Manfaatkan perpustakaan dan sumber daya internet untuk mengetahui lebih banyak tentang keahlian guru-periset.
-          Mintalah orang lain(misalnya rekan guru anda) untuk mengamati kelas anda dan membantu anda menyusun strategi untuk riset problem tertentu yang ingin anda pecahkan.

Riset di bidang psikologi pendidikan menghadapi sejumlah tantangan. Kita dapat melihatnya dari berbagai aspek, yaitu:
-          Etika. Ahli psikologi pendidikan harus berhati-hati dalam memastikan kesehatan dan keamanan anak yang berpartisipasi dalam studi riset.
-           Gender. Banyak sekali pakar gender percaya bahwa banyak pendidikan dan riset mengandung bias gender. Periset pendidikan menyatakan bahwa sudah lama perempuan diposisikan di bawah lelaki.
-          Etnis dan Kultur. Kita perlu memasukkan lebih banyak anak dari keluarga etnis yang minoritas dalam riset psikologi pendidikan kita. Secara historis, anak etnis minoritas diabaikan dalam riset atau sekadar dianggap sebagai variasi dari norma atau kelaziman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar