Laporan Observasi di SMK Tritech Medan

Selasa, 10 Desember 2013

Kelompok I

TUGAS PSIKOLOGI BELAJAR
Laporan Observasi di SMK Tritech Medan


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sekolah
  1. Identitas Sekolah
Nama Sekolah                              : SMK Tritech Informatika Medan
Nomor Pokok Sekolah Nasional : 10261412
Bidang Keahlian                           : Teknik Informasi Dan Komunikasi
Program Keahlian                      : Teknik Komputer Dan Informatika
Kompetensi Keahlian                  : TKJ – Multimedia – RPL
Alamat                                          : Jln. Bhayangkara No. 522 CDE Medan
Website                                        : http://www.tritech.sch.id
Status Sekolah                             : Swasta 

2. Visi dan Misi Sekolah
Visi :
  • Menjadikan SMK berbasis teknologi Informatika yang Unggul, Mandiri, Religius dan Berstandar Internasional
Misi :
  • Siswa/i mampu menguasai komputer software dan hardware serta  jaringan IT
  • Melahirkan generasi yang handal dalam bidang IPTEK, IMTAQ dan berjiwa kebangsaan
B. Data Observer
  • Observasi Kelas 
Hari & Tanggal Observasi : Senin, 18 September 2013
Kelas yang di Observasi : X MEX-1(Multimedia Eksekutif 1)
Mata Pelajaran                   : Alur Proses Multimedia
Waktu Observasi             : 08.15 WIB s/d 09.15 WIB
Jumlah Siswa                   : 26 Orang
Alat Observasi                   : Pena, buku catatan dan kamera.
Nama Observer                : 1. Mona Sriukur            (10-047)
                                             2. Yosephine Mendrofa (10-080)
                                             3. Tota Fierda               (10-092)
                                             4. Anggita Windy (10-103)
                           5. Putri Olwinda (10-121)
Pembagian Tugas               : 1. Dokumentasi (Anggita danYosephine)
                                                   2. Observasi (Mona, Tota, dan Putri)

C. Kondisi Fisik Kelas

a. Media Pembelajaran yang digunakan:
1. Guru (Laptop yang disambungkan ke LCD TV,spidol dan whiteboard)
2. Siswa (Laptop, alat tulis dan modem)

b. Situasi Fisik Kelas: 
1. Kursi guru                : 1 buah
2. Kursi siswa             : 26 buah
3. Meja guru                : 1 buah
4. Meja siswa             : 13 buah
5. AC                           : 1 buah
6. Kipas                       : 1 buah
7. LCD TV                   : 1 buah
8. White board            : 1 buah
9. Papan “tweet”         : 1 buah
10. Foto Pahlawan     : 1 buah
11. Sapu                      : 1 buah
12. Tong sampah        : 1 buah
13. Pengki                   : 1 buah

D. Hasil Observasi

Ruang kelas X MEX-1 dibatasi dengan papan triplex pada setiap sisi. Di dalam ruangan kelas terdapat sebuah AC, pengharum ruangan (tidak menyala), kipas angin, CCTV, white board (dilapisi kaca), LCD TV yang dihubungkan dengan laptop guru,keranjang sampah, sebuah ember hitam, pengki, cairan pembersih lantai, foto pahlawan (Imam Bonjol), serta papan pengumuman bertuliskan “tweet” yang berisi jadwal mata pelajaran, jadwal piket siswa, denah posisi duduk siswa, dan tata tertib sekolah. Letak meja dan kursi para siswa disusun menghadap ke arah whiteboard, dengan meja berwarna putih dan kursi berwarna cokelat. Ruangan kelas X MEX-1 dicat dengan tiga warna, yaitu kuning, putih dan hijau.


Saat mata pelajaran Alur Proses Multimedia, semua siswa/i sedang melakukan diskusi kelompok (dibagi menjadi 5 kelompok). Masing-masing kelompok dibagi ke dalam tugas-tugas membuat logo, video, iklan, berita, dan animasi. Kelompok A membuat iklan dalam bentuk video, kelompok B membuat animasi, dan seterusnya. Alat utama yang digunakan adalah laptop yang dilengkapi dengan berbagai software untuk mendukung pembuatan tugas tersebut. Masing-masing siswa memiliki sebuah laptop, alat tulis dan menggunakan wi-fi, namun ada beberapa siswa menggunakan modem.


BAB II 
TEORI DAN PEMBAHASAN
A. Teori yang digunakan

a. Otak Manusia
Salah satu struktur otak adalah thalamus. Thalamus merupakan koleksi nuclei yang memproses tipe informasi tertentu, seperti visual, audio, tactile. Informasi visual yang diterima oleh thalamus, seperti warna, akan menstimulus kinerja otak.

b. Teori Skinner
Teori Skinner mengenai aturan dasar perubahan perilaku, mengidentifikasikan tiga komponen penting dari perubahan perilaku, yakni (a) kesempatan di mana perilaku terjadi, (b) perilaku itu sendiri, dan (c) konsekuensi dari perilaku itu.

c. Teori Bandura
Tiga asumsi dasar yang mendukung teori sosial kognitif adalah (a) proses kognitif pembelajar dan pengambilan keputusan, (b) interaksi lingkungan, personal, dan perilaku, (c) hasil belajar.

d. Teori Model Kognitif dan Teori Motivasi Akademik
Tiga asumsi dasar dalam analisa motivasi, yang pertama, motivasi individual adalah hasil dari interaksi antara faktor lingkungan dengan karakteristik tertentu. Kedua, pemelajar adalah pemroses informasi yang aktif dan ketiga, bahwa motif kebutuhan atau tujuan siswa adalah pengetahuan eksplisit.

B. Pembahasan

a. Situasi fisik kelas berdasarkan Teori Otak Manusia.
Salah satu fungsi otak adalah pemrosesan data indra (mata, telinga dan sebagainya). Ruangan kelas X MEX 1 SMA ini memiliki dinding kelas yang diberi tiga warna, hijau, putih dan kuning. Otak akan memproses warna-warna dalam ruangan yang mempengaruhi otak sendiri. Misalnya, hijau dikaitkan dengan alam.

Karena hubungannya dengan alam, hijau dianggap sebagai warna menenangkan dan  santai. Warna hijau juga dapat membantu orang yang sering ,merasa tegang. Hijau akan menyeimbangkan emosi, menciptakan keterbukaan antara seseorang dan orang lain. Warna hijau juga terkait dengan cakra jantung sehingga dipercaya membantu masalah emosional, seperti cinta, kepercayaan, dan kasih sayang. Pemilihan warna putih biasanya memberikan aura kebebasan dan keterbukaan. Kuning adalah warna cerah yang dapat menarik banyak perhatian. Warna kuning berhubungan dengan intelektual dan proses mental. Warna cerah ini juga merangsang otak serta membuat lebih waspada dan tegas.

b. Proses Belajar di Kelas Berdasarkan Teori Pengkondisian Berpenguat Skinner
Ada siswa yang aktif bertanya kepada guru dan aktif berdiskusi dengan teman-temannya, namun ada juga siswa yang kurang aktif. Beberapa siswa perwakilan kelompok bertanya dan berdiskusi dengan guru ketika mengalami kesulitan dalam pengerjaan tugas. Meskipun banyak siswa yang bertanya kepada guru mengenai hambatan yang mereka hadapi, guru tetap mau (aktif) membantu siswanya.

Jika dikaitkan dengan teori Skinner yang mengatakan bahwa seseorang akan mengubah perilakunya karena ada kesempatan untuk menampilkan perilaku tersebut. Dari pernyataan di atas diketahui bahwa terdapat siswa yang aktif di kelas. Proses belajar yang dilakukan di kelas MEX-1 adalah dalam bentuk diskusi. Metode ini menjadi peluang bagi siswa yang ingin menyelesaikan tugasnya dengan baik. Siswa akan menganggap kondisi tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk bertanya, sehingga muncullah perilaku siswa yang aktif di kelas. Konseskuensi yang didapatkan dari perilaku tersebut adalah siswa mendapat feedback dari guru juga mandapatkan masukan yang positif terhadap tugas.

Jika ditinjau dari topik perilaku yang diatur peraturan (rule-governed) dalam teori pengkondisian penguat Skinner, yang menjelaskan bahwa perilaku yang diatur peraturan (kurikulum) dapat diperoleh dari pernyataan formal dari perilaku yang diterima, seperti aturan tata bahasa dan ejaan, aturan hukum, etika, dan praktik religius suatu masyarakat. Hal ini bisa dikaitkan dengan kelas X MEX-1, dimana kelas ini merupakan kelas Multimedia dan saat dilakukan observasi sedang mempelajari alur proses multimedia, dimana perilaku mereka diatur oleh peraturan mata pelajaran tersebut yang mengharuskan mereka untuk membawa laptop, modem jika diperlukan, dan catataan untuk menulis penjelasan guru.

Tuntutan kelas adalah adanya komunikasi yang baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa di dalam suatu kelompok. Tugas yang diberikan oleh guru adalah tugas dalam bentuk kelompok, dimana guru mengharapkan adanya interaksi yang baik dalam masing-masing kelompok untuk mengerjakan tugas tersebut. Perilaku yang diharapkan sesuai dengan aturan adalah anggota masing-masing kelompok aktif dalam mengerjakan tugas, tapi, yang tampak adalah terdapat sebagian dari anggota kelompok yang pasif yang memilih untuk diam di tempat duduk atau mengerjakan hal lain.

Teori Pengkondisian Berpenguat Skinner dalam topik belajar di latar ruang kelas mengatakan bahwa ketika seorang guru bertanggung jawab menangani anak 20-30 orang dalam satu kelas, akan muncul beberapa permasalahan. Misalnya, pemberian penguatan positif yang kurang dari guru terhadap siswa, tertundanya waktu yang lama antara perilaku dengan penguatan, kurangnya program yang mengarahkan anak ke serangkaian perilaku yang diharapkan. Kelas X MEX-1 memiliki jumlah siswa sebanyak 26 orang yang ditangani oleh satu guru. Pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa diskusi kelompok yang dilakukan dalam kelas kurang terarah, seperti yang dijelaskan dalam teori skinner bahwa kurangnya program yang mengarahkan anak ke serangkaian perilaku yang diharapkan. Satu guru menangani 26 dalam bentuk kelas diskusi membuat beberapa perilaku yang terjadi di dalam kelas bukanlah perilaku yang diharapkan. Misalnya, adanya siswa yang kurang aktif dan ada siswa yang sangat aktif. 

Selain itu penguatan yang diberikan oleh guru adalah adanya feedback positif terhadap siswa. Namun, pemasalahan tiap kelompok terhadap hambatan yang mereka temukan berbeda satu dengan yang lain dengan tingkat kesulitan yang berbeda pula. Sehingga, adanya waktu pemeberian feedback yang lama pada kelompok tertentu yang membuat sebagian kelompok lain kekurangan waktu untuk mendapat penguatan dari guru tersebut.

c. Proses Belajar di Kelas Berdasarkan Teori Kognitif Sosial-Bandura
Berbeda dengan Teori Bandura yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses yang natural. Lingkungan sosial memberikan banyak kesempatan bagi individu untuk mendapatkan keterampilan dan kemampuan yang kompleks melalui perilaku model dan konsekuensi perilaku. Hal ini menjelaskan proses belajar di kelas X MEX-1 ini merupakan proses belajar yang terjadi secara natural, dimana masing-masing siswa dapat mengekspresikan perilaku belajar mereka masing-masing sesuai dengan gaya belajar yang mereka miliki. Memandang positif bagi siswa yang aktif maupun tidak aktif yang menunjukkan perilaku belajar mereka masing-masing. Adanya siswa yang aktif membuat beberapa siswa lainnya menjadi aktif juga. Hal ini menunjukkan adanya perilaku modeling yang terjadi pada proses belajar di kelas ini. 

d. Proses Belajar di Kelas Berdasarkan Teori Model Kognitif dan Teori Motivasi Akademik
Apabila dikaitkan dengan teori motivasi akademik di mana terdapat tiga asumsi yaitu, pertama, motivasi seseorang berkembang melalui interaksi kompleks dari faktor lingkungan dengan faktor di dalam diri anak, kedua, pemelajar adalah pemroses informasi yang aktif, dan ketiga yaitu motif, kebutuhan, atau tujuan pemelajar merupakan pengetahuan eksplisit. Dari hasil observasi, siswa yang berada di kelas X MEX-1 dapat dilihat bahwa rata-rata siswa dapat aktif di dalam kelas untuk mengerjakan tugas yang diberikan dan bertanya dengan guru karena adanya kebutuhan untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik mungkin dan aktif bertanya di dalam kelas karena adanya faktor situasi dimana teman-temannya juga aktif bertanya kepada guru jika ada yang belum dimengerti. 


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh kelompok, adapun kesimpulan laporan observasi adalah:
  1. Situasi fisik kelas X MEX-1 secara keseluruhan sudah memadai dalam hal fasilitas serta penggunaan beberapa warna untuk dinding sehingga tidak bersifat monoton.
  2. Proses belajar yang dilakukan di kelas pada mata pelajaran Alur Multimedia berupa diskusi kelompok.
  3. Guru memberikan kebebasan kepada para siswa untuk berekspresi dalam pengerjaan tugas kelompok, sehingga secara natural siswa berperilaku sesuai dengan situasi kelas. Ada sebagian siswa yang sangat aktif dan ada juga yang pasif di kelas. Siswa yang aktif membuat beberapa siswa lainnya menjadi ikut aktif dalam proses diskusi, dan siswa yang pasif memilih untuk duduk diam di tempatnya. 
  4. Berdasarkan teori motivasi akademik dikaitkan dengan proses belajar siswa kelas X MEX-1 dalam bentuk diskusi, siswa-siswa yang aktif maupun pasif pasti memiliki motif atau tujuan dalam proses pembelajarannya, dan siswa yang aktif memiliki pengaruh terhadap siswa lainnya yang juga akan mengikuti perilaku mereka yang aktif untuk bertanya kepada guru serta bertanya kepada sesama teman.
B. Saran

Berikut saran-saran yang dapat diberikan oleh kelompok kepada sekolah SMK Tritech atau secara khusus untuk kelas X MEX-1 adalah:
  1. Sebaiknya proses diskusi yang dilakukan di dalam kelas bisa lebih terarah, dalam arti bahwa guru juga memperhatikan siswa yang kurang aktif dalam bertanya kepada guru.
  2. Kelompok menyarankan agar koneksi internet yang disediakan SMK Tritech Medan dapat digunakan oleh seluruh siswa secara gratis, karena berdasarkan wawancara yang dilakukan kelompom dengan beberapa siswa mengatakan bahwa yang dapat menggunakan jaringan internet sekolah hanya siswa yang menggunakan kartu Indosat.
  3. Suasana yang ribut dalam proses diskusi kelompok (ketika ada mata pelajaran yang dilakukan dalam bentuk diskusi) adalah hal yang wajar, namun sebaiknya guru tetap harus lebih memperhatikan proses diskusi masing-masing kelompok yang berlangsung di kelas agar siswa tetap mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan.

DAFTAR PUSTAKA

Gredler, Margaret E. (2011). Learning and Instructional: Teori dan Aplikasi. Terjemahan Tri Wibowo, B.S. Jakarta: Kencana.

Anonim. 2013. SMK Tritech Informatika. [online]. Tersedia : http://www.tritech.sch.id/. Diakses pada tanggal : 9 Desember 2013.

LAMPIRAN


Meja Guru




Ruangan Kelas




Bersama Guru dan Siswa Kelas-X SMK Tritech



Teori Perkembangan Psikologi Kultural-Historis Lev S. Vygotsky

Selasa, 22 Oktober 2013

Semua fungsi psikologis yang lebih tinggi [proses kognitif] memiliki karakteristik psikologis umum yang membedakannya dari semua proses mental lainnya; Mereka itu merupakan proses penguasaan reaksi kita sendiri melalui berbagai cara.
(Vygotsky)

Lev Vygotsky membahas proses psikologis peringkat tinggi yang disebutnya sebagai proses psikologis atau mental. Termasuk di dalamnya adalah atensi yang diorganisasikan sendiri, persepsi kategoris, pemikiran konseptual, dan memori logis. Komponen esensial dari perkembangan tersebut adalah tanda dan simbol dari kultur seseorang dan interaksinya dengan orang dewasa, yang dideskripsikan sebagai “bentuk ideal” dari perilaku. Vygotsky mendasarkan analisisnya pada eksperimen di mana subjek menunjukkan pemahaman mereka tentang peran tanda-tanda kultural (perangkat psikologis) dalam membahas tugas kognitif.

PRINSIP PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS
Tujuan Vygotsky adalah menciptakan psikologi yang secara teoritis dan metodologis sederajat dengan tugas meneliti karakteristik manusia yang unik. Ada tiga bidang yang membentuk landasan analisis Vygotsky terhadap perkembangan kapabilitas mental manusia, yaitu:

1. Hakikat Kecerdasan Manusia
Sifat Kecerdasan manusia mencangkup empat topik yang saling terkait, yaitu (a) perbedaan antara hewan/manusia dalam kegiatan mental, (b) landasan filosofis, (c) konsep perangkat psikologis; dan (d) pengaruh sistem simbol (perangkat psikologis) terhadap perkembangan manusia.

2. Deret Perkembangan Biologis dan Kultural-Historis
Analisis perbedaan antara perilaku hewan dan manusia menimbulkan identifikasi dua deret perkembangan psikologis yang berbeda secara kualitatif. Satu deret menyatakan bahwa faktor-faktor biologis adalah bagian dari proses evolusi. Termasuk di dalamnya adalah perkebangan sistem syaraf sentral dan pertumbuhan fisik dan kedewasaan. Dalam spesies manusia, faktor biologis mendominasi bulan-bulan awal masa kehidupan, bertanggung jawab atas persepsi sederhana, memori natural, atau langsung dan atensi involuntari. Kemunculan fungsi mental elementar ini juga disebut sebagai perkembangan alami atau primitif.

3. Metode Eksperimental-Genetik (Development)
Vygotsky mendeskripsikan proses perkembangan kognitif sebagai proses yang kompleks dan terus berubah, namun para peneliti tidak meneliti proses ini. Sebaliknya, mereka hanya mengimplementasikan satu model situasi stimulus-respon. Meski para psikolog telah mempelajari konstelasi stimuli yang berbeda dan beragam reaksi, mereka belum mengambil langkah fundamental untuk melampaui model tersebut.

PRINSIP PEMBELAJARAN
Vygotsky mendeskripsikan transformasi dari persepsi sederhana, atensi involuntari dan memori sederhana ke dalam persepsi kategoris, pemikiran knseptual, memori logis, dan atensi yang diatur sendiri. Baik itu kultur individual maupun hubungan pendidikan dengan perkembangan berperan penting dalam perkembangan kognitif.

Asumsi Dasar
Ada dua asumsi dasar yang berhubungan dengan pembelajaran dari teori Vygotsky. Pertama adalah kultur membangun cara berpikir dengan bahasa dan simbol kultural lainnya dan mereka adalah cara berpikir yang dikembangkan anak dalam kultur itu. kedua adalah pembelajaran mendahului dan memandu perkembangan kognitif.

Komponen Pembelajaran
Komponen penting dari pembelajaran adalah: (a) menentukan tahap pembelajaran yang tepat (b) mengimplementasikan hukum genetik perkembangan kognitif dan (c) mengembangkan pemikiran verbal siswa.

APLIKASI PENDIDIKAN
Program untuk mengajari membaca bagi pembaca yang lemah merefleksikan konsep Vygotsky tentang kolaborasi siswa,guru, pemodelan guru dan imitasi, serta abstraksi makna dari simbol, programnya yaitu: Reading Recovery, yang didesain oleh Marie Clay (1985) untuk anak kelas satu yang belum menguasai proses membaca di kelas reguler. Dan Pengajaran Resiprokal, yang dikembangkan oleh Palinscar Brown untuk mengajar strategi pemahaman pada anak yang memiliki  masalah membaca. Anak belajar menilai secara subjektif yang artinya penting untuk memantau apakah mereka sudah memahami teks atau belum.
Prinsip Vygotsky setidaknya mengandung dua implikasi penting lainnya. Pertama, makna lambang dan simbol yang digunakan dalam kultur bukan kebetulan. Kedua, teori ini juga memandang masyarakat secara umum sebagai kultur yang berusaha memahami implikasi dari masyarakat berbasi media.

Daftar Pustaka:
Gredler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

Teori Perkembangan Kognitif - Jean Piaget

Selasa, 15 Oktober 2013

Untuk memahami gagasan tentang belajar yang memadai, kita pertama-tama harus menjelaskan bagaimana individu bisa mengonstuksi dan menciptkan, bukan hanya bagaimana dia mengulangi dan meniru.(Piaget)

Teori Perkembangan kognitif berfokus pada terbentuknya pemikiran manusia pada peringkat tertinggi, serta mendeskripsikan peristiwa dan kondisi yang dibutuhkan untuk mencapai peringkat tersebut. Ada dua teoritisi perkembangan kognitif, Jean Piaget dan Lev S. Vygotsky mereka mendeskripsikan aspek pemikiran yang berbeda-beda. Pada postingan ini, saya mengangkat teori perkembagnan kognitif, Jean Piaget. Jean Piaget, psikolog swiss, membahas perkembangan pemikiran logis dalam bentuk penalaran kausal tentang suatu peristiwa. Piaget mendasarkan investigasinya atas manipulasi dan interaksi individual anak dengan objek di lingkungannya.
Fokus dari teori Jean Piaget yang bertujuan untuk menemukan karakteristik dari logika alamiah dan transformasinya yang terdiri dari proses penalaran yang dibangun oleh individu pada berbagai fase dalam perkembangan kognitif seperti logika bertindak, berbicara, berpikir dalam berbagai macam bentuk. Tujuan ini mengharuskan dilakukannya penelitian atas akar dari pemikiran logis pada bayi, jenis penalaran yang dilakukan anak kecil, dan proses penalaran remaja dan dewasa. Dalam karya Piaget, pengetahuan adalah proses mengetahui melalui interaksi dengan lingkungan, dan kecerdasan adalah sistem terorganisasi yang membentuk struktur yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Karena itu, kecerdasan merupakan suatu proses yang terus berjalan dan berubah , dan aktivitas pemelajar menciptakan proses mengetahui. 
Transformasi dari salah satu bentuk penalaran ke bentuk yang lain tergantung kepada empat faktor esensial. Faktor itu adalah lingkungan fisik, kematangan, pengaruh sosial, dan proses yang disebut sebagai penyeimbangan (equilibration).

KOMPONEN PERKEMBANGAN KOGNITIF
Teori ini adalah proses yang menjelaskan kemajuan dari satu taraf penalaran dan pemikiran ke taraf yang lebih tinggi. Dua topik utama dalam teori Piaget mengilustrasikan proses ini, yaitu :

1. Sifat Psikologis dan Pemikiran Logis
Karakteristik esensial dari pemikiran logikal adalah konstruksi struktur psikological dengan karakteristik partikular. Secara spesifik, pemelajar (a) secara jelas mengenali perubahan (transformasi) dan ketidakberubahan (konservasi) situasi; (b) memahami operasi kebalikan untuk setiap transformasi (keterbalikan); dan (c) mengidentifikasi solusi masalah sebagai keniscayaan logikal..

2. Proses fundamental yang terlibat dalam interaksi dengan lingkungan.
Proses fundamental dalam perkembangan pemikiran logis adalah asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Asimilasi adalah integrasi elemen eksternal ke dalam struktur intermal pemelajar. Akomodasi mencangkup penyesuaian dalam struktur internal pemelajar dan transformasi kualitatif dalam pemikiran. Kesadaran anak bahwa dua keyakinan kontradiktif yang dianutnya tidak mungkin dua-duanya benar (konflik kognitif) sering memicu reorganisasi pemikiran anak. Ekuilibrasi adalah seperangkat proses yang kompleks dan dinamis yang secara kontinyu mengatur perilaku. Peran utama ekuilibrasi adalah mempertahankan fungsi intelektual selama perkembangan.

Peringkat Penalaran Kompleks
Periode perkembangan kognitif yang diidentifikasi oleh Piaget adalah tahap sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Pada sensorimotor, bayi mengkonstruksi tindakan yang memungkinkannya untuk bereaksi pada lingkungan. Pada periode pra-operasional, anak membuat keputusan tentang kejadian berdasarkan petunjuk perseptual dan tidak membedakan antara realitas, kemungkinan, dan keniscayaan dalam situasi pemecahan masalah. Pada periode operasional konkret dan formal mempresentasikan penalaran logis, meskipun periode ini berbeda secara kualitatif. Pemikiran operasional konkret terbatas pada manipulasi langsung atas objek. Tetapi anak mengembangkan pemikiran logis yang berhubungan dengan jumlah, penggolongan, dan konservasi kuantitas secara kontinum. Dalam pemikiran operasional formal, individu dapat memecahkan situasi multifaktor karena dia dapat mengonseptualisasikan semua kombinasi faktor dalam situasi tertentu. Individu secara sistematis menguji hipotesis tentang situasi itu untuk mendapatkan penjelasan yang benar.

Aplikasi Pendidikan
Peran pendidikan, menurut Piaget, adalah mendukung riset spontan oleh anak. Eksperimen dengan objek rii dan interaksi dengan teman, yang didukung oleh pertanyaan dari guru, memungkinkan anak untuk mengonstruksi pengetahuan fisika dan logika matematika. Persayaratan utama untuk kurikulum adalah kesempatan yang luas bagi anak untuk berinteraksi dengan dunia fisik melalui berbagai cara, memperbaiki kesalahan mereka, dan mengembangkan jawaban melalui intraksi dengan teman.

Kelemahan dari Teori Piaget
  • Memahami istilah dan definisi dasar yang sulit
  • Kurikulum Piagetian sulit diimplementasikan dan dipertahankan
  • Persepektifnya mengesampingkan relasi antara pemikiran logis dan belajar dasar, seperti membaca.

Daftar Pustaka :
Gredler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

Selasa, 10 Desember 2013

Laporan Observasi di SMK Tritech Medan

Kelompok I

TUGAS PSIKOLOGI BELAJAR
Laporan Observasi di SMK Tritech Medan


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Sekolah
  1. Identitas Sekolah
Nama Sekolah                              : SMK Tritech Informatika Medan
Nomor Pokok Sekolah Nasional : 10261412
Bidang Keahlian                           : Teknik Informasi Dan Komunikasi
Program Keahlian                      : Teknik Komputer Dan Informatika
Kompetensi Keahlian                  : TKJ – Multimedia – RPL
Alamat                                          : Jln. Bhayangkara No. 522 CDE Medan
Website                                        : http://www.tritech.sch.id
Status Sekolah                             : Swasta 

2. Visi dan Misi Sekolah
Visi :
  • Menjadikan SMK berbasis teknologi Informatika yang Unggul, Mandiri, Religius dan Berstandar Internasional
Misi :
  • Siswa/i mampu menguasai komputer software dan hardware serta  jaringan IT
  • Melahirkan generasi yang handal dalam bidang IPTEK, IMTAQ dan berjiwa kebangsaan
B. Data Observer
  • Observasi Kelas 
Hari & Tanggal Observasi : Senin, 18 September 2013
Kelas yang di Observasi : X MEX-1(Multimedia Eksekutif 1)
Mata Pelajaran                   : Alur Proses Multimedia
Waktu Observasi             : 08.15 WIB s/d 09.15 WIB
Jumlah Siswa                   : 26 Orang
Alat Observasi                   : Pena, buku catatan dan kamera.
Nama Observer                : 1. Mona Sriukur            (10-047)
                                             2. Yosephine Mendrofa (10-080)
                                             3. Tota Fierda               (10-092)
                                             4. Anggita Windy (10-103)
                           5. Putri Olwinda (10-121)
Pembagian Tugas               : 1. Dokumentasi (Anggita danYosephine)
                                                   2. Observasi (Mona, Tota, dan Putri)

C. Kondisi Fisik Kelas

a. Media Pembelajaran yang digunakan:
1. Guru (Laptop yang disambungkan ke LCD TV,spidol dan whiteboard)
2. Siswa (Laptop, alat tulis dan modem)

b. Situasi Fisik Kelas: 
1. Kursi guru                : 1 buah
2. Kursi siswa             : 26 buah
3. Meja guru                : 1 buah
4. Meja siswa             : 13 buah
5. AC                           : 1 buah
6. Kipas                       : 1 buah
7. LCD TV                   : 1 buah
8. White board            : 1 buah
9. Papan “tweet”         : 1 buah
10. Foto Pahlawan     : 1 buah
11. Sapu                      : 1 buah
12. Tong sampah        : 1 buah
13. Pengki                   : 1 buah

D. Hasil Observasi

Ruang kelas X MEX-1 dibatasi dengan papan triplex pada setiap sisi. Di dalam ruangan kelas terdapat sebuah AC, pengharum ruangan (tidak menyala), kipas angin, CCTV, white board (dilapisi kaca), LCD TV yang dihubungkan dengan laptop guru,keranjang sampah, sebuah ember hitam, pengki, cairan pembersih lantai, foto pahlawan (Imam Bonjol), serta papan pengumuman bertuliskan “tweet” yang berisi jadwal mata pelajaran, jadwal piket siswa, denah posisi duduk siswa, dan tata tertib sekolah. Letak meja dan kursi para siswa disusun menghadap ke arah whiteboard, dengan meja berwarna putih dan kursi berwarna cokelat. Ruangan kelas X MEX-1 dicat dengan tiga warna, yaitu kuning, putih dan hijau.


Saat mata pelajaran Alur Proses Multimedia, semua siswa/i sedang melakukan diskusi kelompok (dibagi menjadi 5 kelompok). Masing-masing kelompok dibagi ke dalam tugas-tugas membuat logo, video, iklan, berita, dan animasi. Kelompok A membuat iklan dalam bentuk video, kelompok B membuat animasi, dan seterusnya. Alat utama yang digunakan adalah laptop yang dilengkapi dengan berbagai software untuk mendukung pembuatan tugas tersebut. Masing-masing siswa memiliki sebuah laptop, alat tulis dan menggunakan wi-fi, namun ada beberapa siswa menggunakan modem.


BAB II 
TEORI DAN PEMBAHASAN
A. Teori yang digunakan

a. Otak Manusia
Salah satu struktur otak adalah thalamus. Thalamus merupakan koleksi nuclei yang memproses tipe informasi tertentu, seperti visual, audio, tactile. Informasi visual yang diterima oleh thalamus, seperti warna, akan menstimulus kinerja otak.

b. Teori Skinner
Teori Skinner mengenai aturan dasar perubahan perilaku, mengidentifikasikan tiga komponen penting dari perubahan perilaku, yakni (a) kesempatan di mana perilaku terjadi, (b) perilaku itu sendiri, dan (c) konsekuensi dari perilaku itu.

c. Teori Bandura
Tiga asumsi dasar yang mendukung teori sosial kognitif adalah (a) proses kognitif pembelajar dan pengambilan keputusan, (b) interaksi lingkungan, personal, dan perilaku, (c) hasil belajar.

d. Teori Model Kognitif dan Teori Motivasi Akademik
Tiga asumsi dasar dalam analisa motivasi, yang pertama, motivasi individual adalah hasil dari interaksi antara faktor lingkungan dengan karakteristik tertentu. Kedua, pemelajar adalah pemroses informasi yang aktif dan ketiga, bahwa motif kebutuhan atau tujuan siswa adalah pengetahuan eksplisit.

B. Pembahasan

a. Situasi fisik kelas berdasarkan Teori Otak Manusia.
Salah satu fungsi otak adalah pemrosesan data indra (mata, telinga dan sebagainya). Ruangan kelas X MEX 1 SMA ini memiliki dinding kelas yang diberi tiga warna, hijau, putih dan kuning. Otak akan memproses warna-warna dalam ruangan yang mempengaruhi otak sendiri. Misalnya, hijau dikaitkan dengan alam.

Karena hubungannya dengan alam, hijau dianggap sebagai warna menenangkan dan  santai. Warna hijau juga dapat membantu orang yang sering ,merasa tegang. Hijau akan menyeimbangkan emosi, menciptakan keterbukaan antara seseorang dan orang lain. Warna hijau juga terkait dengan cakra jantung sehingga dipercaya membantu masalah emosional, seperti cinta, kepercayaan, dan kasih sayang. Pemilihan warna putih biasanya memberikan aura kebebasan dan keterbukaan. Kuning adalah warna cerah yang dapat menarik banyak perhatian. Warna kuning berhubungan dengan intelektual dan proses mental. Warna cerah ini juga merangsang otak serta membuat lebih waspada dan tegas.

b. Proses Belajar di Kelas Berdasarkan Teori Pengkondisian Berpenguat Skinner
Ada siswa yang aktif bertanya kepada guru dan aktif berdiskusi dengan teman-temannya, namun ada juga siswa yang kurang aktif. Beberapa siswa perwakilan kelompok bertanya dan berdiskusi dengan guru ketika mengalami kesulitan dalam pengerjaan tugas. Meskipun banyak siswa yang bertanya kepada guru mengenai hambatan yang mereka hadapi, guru tetap mau (aktif) membantu siswanya.

Jika dikaitkan dengan teori Skinner yang mengatakan bahwa seseorang akan mengubah perilakunya karena ada kesempatan untuk menampilkan perilaku tersebut. Dari pernyataan di atas diketahui bahwa terdapat siswa yang aktif di kelas. Proses belajar yang dilakukan di kelas MEX-1 adalah dalam bentuk diskusi. Metode ini menjadi peluang bagi siswa yang ingin menyelesaikan tugasnya dengan baik. Siswa akan menganggap kondisi tersebut sebagai sebuah kesempatan untuk bertanya, sehingga muncullah perilaku siswa yang aktif di kelas. Konseskuensi yang didapatkan dari perilaku tersebut adalah siswa mendapat feedback dari guru juga mandapatkan masukan yang positif terhadap tugas.

Jika ditinjau dari topik perilaku yang diatur peraturan (rule-governed) dalam teori pengkondisian penguat Skinner, yang menjelaskan bahwa perilaku yang diatur peraturan (kurikulum) dapat diperoleh dari pernyataan formal dari perilaku yang diterima, seperti aturan tata bahasa dan ejaan, aturan hukum, etika, dan praktik religius suatu masyarakat. Hal ini bisa dikaitkan dengan kelas X MEX-1, dimana kelas ini merupakan kelas Multimedia dan saat dilakukan observasi sedang mempelajari alur proses multimedia, dimana perilaku mereka diatur oleh peraturan mata pelajaran tersebut yang mengharuskan mereka untuk membawa laptop, modem jika diperlukan, dan catataan untuk menulis penjelasan guru.

Tuntutan kelas adalah adanya komunikasi yang baik antara guru dengan siswa maupun antar siswa di dalam suatu kelompok. Tugas yang diberikan oleh guru adalah tugas dalam bentuk kelompok, dimana guru mengharapkan adanya interaksi yang baik dalam masing-masing kelompok untuk mengerjakan tugas tersebut. Perilaku yang diharapkan sesuai dengan aturan adalah anggota masing-masing kelompok aktif dalam mengerjakan tugas, tapi, yang tampak adalah terdapat sebagian dari anggota kelompok yang pasif yang memilih untuk diam di tempat duduk atau mengerjakan hal lain.

Teori Pengkondisian Berpenguat Skinner dalam topik belajar di latar ruang kelas mengatakan bahwa ketika seorang guru bertanggung jawab menangani anak 20-30 orang dalam satu kelas, akan muncul beberapa permasalahan. Misalnya, pemberian penguatan positif yang kurang dari guru terhadap siswa, tertundanya waktu yang lama antara perilaku dengan penguatan, kurangnya program yang mengarahkan anak ke serangkaian perilaku yang diharapkan. Kelas X MEX-1 memiliki jumlah siswa sebanyak 26 orang yang ditangani oleh satu guru. Pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa diskusi kelompok yang dilakukan dalam kelas kurang terarah, seperti yang dijelaskan dalam teori skinner bahwa kurangnya program yang mengarahkan anak ke serangkaian perilaku yang diharapkan. Satu guru menangani 26 dalam bentuk kelas diskusi membuat beberapa perilaku yang terjadi di dalam kelas bukanlah perilaku yang diharapkan. Misalnya, adanya siswa yang kurang aktif dan ada siswa yang sangat aktif. 

Selain itu penguatan yang diberikan oleh guru adalah adanya feedback positif terhadap siswa. Namun, pemasalahan tiap kelompok terhadap hambatan yang mereka temukan berbeda satu dengan yang lain dengan tingkat kesulitan yang berbeda pula. Sehingga, adanya waktu pemeberian feedback yang lama pada kelompok tertentu yang membuat sebagian kelompok lain kekurangan waktu untuk mendapat penguatan dari guru tersebut.

c. Proses Belajar di Kelas Berdasarkan Teori Kognitif Sosial-Bandura
Berbeda dengan Teori Bandura yang mengatakan bahwa belajar merupakan proses yang natural. Lingkungan sosial memberikan banyak kesempatan bagi individu untuk mendapatkan keterampilan dan kemampuan yang kompleks melalui perilaku model dan konsekuensi perilaku. Hal ini menjelaskan proses belajar di kelas X MEX-1 ini merupakan proses belajar yang terjadi secara natural, dimana masing-masing siswa dapat mengekspresikan perilaku belajar mereka masing-masing sesuai dengan gaya belajar yang mereka miliki. Memandang positif bagi siswa yang aktif maupun tidak aktif yang menunjukkan perilaku belajar mereka masing-masing. Adanya siswa yang aktif membuat beberapa siswa lainnya menjadi aktif juga. Hal ini menunjukkan adanya perilaku modeling yang terjadi pada proses belajar di kelas ini. 

d. Proses Belajar di Kelas Berdasarkan Teori Model Kognitif dan Teori Motivasi Akademik
Apabila dikaitkan dengan teori motivasi akademik di mana terdapat tiga asumsi yaitu, pertama, motivasi seseorang berkembang melalui interaksi kompleks dari faktor lingkungan dengan faktor di dalam diri anak, kedua, pemelajar adalah pemroses informasi yang aktif, dan ketiga yaitu motif, kebutuhan, atau tujuan pemelajar merupakan pengetahuan eksplisit. Dari hasil observasi, siswa yang berada di kelas X MEX-1 dapat dilihat bahwa rata-rata siswa dapat aktif di dalam kelas untuk mengerjakan tugas yang diberikan dan bertanya dengan guru karena adanya kebutuhan untuk menyelesaikan tugas dengan sebaik mungkin dan aktif bertanya di dalam kelas karena adanya faktor situasi dimana teman-temannya juga aktif bertanya kepada guru jika ada yang belum dimengerti. 


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh kelompok, adapun kesimpulan laporan observasi adalah:
  1. Situasi fisik kelas X MEX-1 secara keseluruhan sudah memadai dalam hal fasilitas serta penggunaan beberapa warna untuk dinding sehingga tidak bersifat monoton.
  2. Proses belajar yang dilakukan di kelas pada mata pelajaran Alur Multimedia berupa diskusi kelompok.
  3. Guru memberikan kebebasan kepada para siswa untuk berekspresi dalam pengerjaan tugas kelompok, sehingga secara natural siswa berperilaku sesuai dengan situasi kelas. Ada sebagian siswa yang sangat aktif dan ada juga yang pasif di kelas. Siswa yang aktif membuat beberapa siswa lainnya menjadi ikut aktif dalam proses diskusi, dan siswa yang pasif memilih untuk duduk diam di tempatnya. 
  4. Berdasarkan teori motivasi akademik dikaitkan dengan proses belajar siswa kelas X MEX-1 dalam bentuk diskusi, siswa-siswa yang aktif maupun pasif pasti memiliki motif atau tujuan dalam proses pembelajarannya, dan siswa yang aktif memiliki pengaruh terhadap siswa lainnya yang juga akan mengikuti perilaku mereka yang aktif untuk bertanya kepada guru serta bertanya kepada sesama teman.
B. Saran

Berikut saran-saran yang dapat diberikan oleh kelompok kepada sekolah SMK Tritech atau secara khusus untuk kelas X MEX-1 adalah:
  1. Sebaiknya proses diskusi yang dilakukan di dalam kelas bisa lebih terarah, dalam arti bahwa guru juga memperhatikan siswa yang kurang aktif dalam bertanya kepada guru.
  2. Kelompok menyarankan agar koneksi internet yang disediakan SMK Tritech Medan dapat digunakan oleh seluruh siswa secara gratis, karena berdasarkan wawancara yang dilakukan kelompom dengan beberapa siswa mengatakan bahwa yang dapat menggunakan jaringan internet sekolah hanya siswa yang menggunakan kartu Indosat.
  3. Suasana yang ribut dalam proses diskusi kelompok (ketika ada mata pelajaran yang dilakukan dalam bentuk diskusi) adalah hal yang wajar, namun sebaiknya guru tetap harus lebih memperhatikan proses diskusi masing-masing kelompok yang berlangsung di kelas agar siswa tetap mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan.

DAFTAR PUSTAKA

Gredler, Margaret E. (2011). Learning and Instructional: Teori dan Aplikasi. Terjemahan Tri Wibowo, B.S. Jakarta: Kencana.

Anonim. 2013. SMK Tritech Informatika. [online]. Tersedia : http://www.tritech.sch.id/. Diakses pada tanggal : 9 Desember 2013.

LAMPIRAN


Meja Guru




Ruangan Kelas




Bersama Guru dan Siswa Kelas-X SMK Tritech



Selasa, 22 Oktober 2013

Teori Perkembangan Psikologi Kultural-Historis Lev S. Vygotsky

Semua fungsi psikologis yang lebih tinggi [proses kognitif] memiliki karakteristik psikologis umum yang membedakannya dari semua proses mental lainnya; Mereka itu merupakan proses penguasaan reaksi kita sendiri melalui berbagai cara.
(Vygotsky)

Lev Vygotsky membahas proses psikologis peringkat tinggi yang disebutnya sebagai proses psikologis atau mental. Termasuk di dalamnya adalah atensi yang diorganisasikan sendiri, persepsi kategoris, pemikiran konseptual, dan memori logis. Komponen esensial dari perkembangan tersebut adalah tanda dan simbol dari kultur seseorang dan interaksinya dengan orang dewasa, yang dideskripsikan sebagai “bentuk ideal” dari perilaku. Vygotsky mendasarkan analisisnya pada eksperimen di mana subjek menunjukkan pemahaman mereka tentang peran tanda-tanda kultural (perangkat psikologis) dalam membahas tugas kognitif.

PRINSIP PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS
Tujuan Vygotsky adalah menciptakan psikologi yang secara teoritis dan metodologis sederajat dengan tugas meneliti karakteristik manusia yang unik. Ada tiga bidang yang membentuk landasan analisis Vygotsky terhadap perkembangan kapabilitas mental manusia, yaitu:

1. Hakikat Kecerdasan Manusia
Sifat Kecerdasan manusia mencangkup empat topik yang saling terkait, yaitu (a) perbedaan antara hewan/manusia dalam kegiatan mental, (b) landasan filosofis, (c) konsep perangkat psikologis; dan (d) pengaruh sistem simbol (perangkat psikologis) terhadap perkembangan manusia.

2. Deret Perkembangan Biologis dan Kultural-Historis
Analisis perbedaan antara perilaku hewan dan manusia menimbulkan identifikasi dua deret perkembangan psikologis yang berbeda secara kualitatif. Satu deret menyatakan bahwa faktor-faktor biologis adalah bagian dari proses evolusi. Termasuk di dalamnya adalah perkebangan sistem syaraf sentral dan pertumbuhan fisik dan kedewasaan. Dalam spesies manusia, faktor biologis mendominasi bulan-bulan awal masa kehidupan, bertanggung jawab atas persepsi sederhana, memori natural, atau langsung dan atensi involuntari. Kemunculan fungsi mental elementar ini juga disebut sebagai perkembangan alami atau primitif.

3. Metode Eksperimental-Genetik (Development)
Vygotsky mendeskripsikan proses perkembangan kognitif sebagai proses yang kompleks dan terus berubah, namun para peneliti tidak meneliti proses ini. Sebaliknya, mereka hanya mengimplementasikan satu model situasi stimulus-respon. Meski para psikolog telah mempelajari konstelasi stimuli yang berbeda dan beragam reaksi, mereka belum mengambil langkah fundamental untuk melampaui model tersebut.

PRINSIP PEMBELAJARAN
Vygotsky mendeskripsikan transformasi dari persepsi sederhana, atensi involuntari dan memori sederhana ke dalam persepsi kategoris, pemikiran knseptual, memori logis, dan atensi yang diatur sendiri. Baik itu kultur individual maupun hubungan pendidikan dengan perkembangan berperan penting dalam perkembangan kognitif.

Asumsi Dasar
Ada dua asumsi dasar yang berhubungan dengan pembelajaran dari teori Vygotsky. Pertama adalah kultur membangun cara berpikir dengan bahasa dan simbol kultural lainnya dan mereka adalah cara berpikir yang dikembangkan anak dalam kultur itu. kedua adalah pembelajaran mendahului dan memandu perkembangan kognitif.

Komponen Pembelajaran
Komponen penting dari pembelajaran adalah: (a) menentukan tahap pembelajaran yang tepat (b) mengimplementasikan hukum genetik perkembangan kognitif dan (c) mengembangkan pemikiran verbal siswa.

APLIKASI PENDIDIKAN
Program untuk mengajari membaca bagi pembaca yang lemah merefleksikan konsep Vygotsky tentang kolaborasi siswa,guru, pemodelan guru dan imitasi, serta abstraksi makna dari simbol, programnya yaitu: Reading Recovery, yang didesain oleh Marie Clay (1985) untuk anak kelas satu yang belum menguasai proses membaca di kelas reguler. Dan Pengajaran Resiprokal, yang dikembangkan oleh Palinscar Brown untuk mengajar strategi pemahaman pada anak yang memiliki  masalah membaca. Anak belajar menilai secara subjektif yang artinya penting untuk memantau apakah mereka sudah memahami teks atau belum.
Prinsip Vygotsky setidaknya mengandung dua implikasi penting lainnya. Pertama, makna lambang dan simbol yang digunakan dalam kultur bukan kebetulan. Kedua, teori ini juga memandang masyarakat secara umum sebagai kultur yang berusaha memahami implikasi dari masyarakat berbasi media.

Daftar Pustaka:
Gredler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

Selasa, 15 Oktober 2013

Teori Perkembangan Kognitif - Jean Piaget

Untuk memahami gagasan tentang belajar yang memadai, kita pertama-tama harus menjelaskan bagaimana individu bisa mengonstuksi dan menciptkan, bukan hanya bagaimana dia mengulangi dan meniru.(Piaget)

Teori Perkembangan kognitif berfokus pada terbentuknya pemikiran manusia pada peringkat tertinggi, serta mendeskripsikan peristiwa dan kondisi yang dibutuhkan untuk mencapai peringkat tersebut. Ada dua teoritisi perkembangan kognitif, Jean Piaget dan Lev S. Vygotsky mereka mendeskripsikan aspek pemikiran yang berbeda-beda. Pada postingan ini, saya mengangkat teori perkembagnan kognitif, Jean Piaget. Jean Piaget, psikolog swiss, membahas perkembangan pemikiran logis dalam bentuk penalaran kausal tentang suatu peristiwa. Piaget mendasarkan investigasinya atas manipulasi dan interaksi individual anak dengan objek di lingkungannya.
Fokus dari teori Jean Piaget yang bertujuan untuk menemukan karakteristik dari logika alamiah dan transformasinya yang terdiri dari proses penalaran yang dibangun oleh individu pada berbagai fase dalam perkembangan kognitif seperti logika bertindak, berbicara, berpikir dalam berbagai macam bentuk. Tujuan ini mengharuskan dilakukannya penelitian atas akar dari pemikiran logis pada bayi, jenis penalaran yang dilakukan anak kecil, dan proses penalaran remaja dan dewasa. Dalam karya Piaget, pengetahuan adalah proses mengetahui melalui interaksi dengan lingkungan, dan kecerdasan adalah sistem terorganisasi yang membentuk struktur yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan lingkungan. Karena itu, kecerdasan merupakan suatu proses yang terus berjalan dan berubah , dan aktivitas pemelajar menciptakan proses mengetahui. 
Transformasi dari salah satu bentuk penalaran ke bentuk yang lain tergantung kepada empat faktor esensial. Faktor itu adalah lingkungan fisik, kematangan, pengaruh sosial, dan proses yang disebut sebagai penyeimbangan (equilibration).

KOMPONEN PERKEMBANGAN KOGNITIF
Teori ini adalah proses yang menjelaskan kemajuan dari satu taraf penalaran dan pemikiran ke taraf yang lebih tinggi. Dua topik utama dalam teori Piaget mengilustrasikan proses ini, yaitu :

1. Sifat Psikologis dan Pemikiran Logis
Karakteristik esensial dari pemikiran logikal adalah konstruksi struktur psikological dengan karakteristik partikular. Secara spesifik, pemelajar (a) secara jelas mengenali perubahan (transformasi) dan ketidakberubahan (konservasi) situasi; (b) memahami operasi kebalikan untuk setiap transformasi (keterbalikan); dan (c) mengidentifikasi solusi masalah sebagai keniscayaan logikal..

2. Proses fundamental yang terlibat dalam interaksi dengan lingkungan.
Proses fundamental dalam perkembangan pemikiran logis adalah asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi. Asimilasi adalah integrasi elemen eksternal ke dalam struktur intermal pemelajar. Akomodasi mencangkup penyesuaian dalam struktur internal pemelajar dan transformasi kualitatif dalam pemikiran. Kesadaran anak bahwa dua keyakinan kontradiktif yang dianutnya tidak mungkin dua-duanya benar (konflik kognitif) sering memicu reorganisasi pemikiran anak. Ekuilibrasi adalah seperangkat proses yang kompleks dan dinamis yang secara kontinyu mengatur perilaku. Peran utama ekuilibrasi adalah mempertahankan fungsi intelektual selama perkembangan.

Peringkat Penalaran Kompleks
Periode perkembangan kognitif yang diidentifikasi oleh Piaget adalah tahap sensorimotor, pra-operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Pada sensorimotor, bayi mengkonstruksi tindakan yang memungkinkannya untuk bereaksi pada lingkungan. Pada periode pra-operasional, anak membuat keputusan tentang kejadian berdasarkan petunjuk perseptual dan tidak membedakan antara realitas, kemungkinan, dan keniscayaan dalam situasi pemecahan masalah. Pada periode operasional konkret dan formal mempresentasikan penalaran logis, meskipun periode ini berbeda secara kualitatif. Pemikiran operasional konkret terbatas pada manipulasi langsung atas objek. Tetapi anak mengembangkan pemikiran logis yang berhubungan dengan jumlah, penggolongan, dan konservasi kuantitas secara kontinum. Dalam pemikiran operasional formal, individu dapat memecahkan situasi multifaktor karena dia dapat mengonseptualisasikan semua kombinasi faktor dalam situasi tertentu. Individu secara sistematis menguji hipotesis tentang situasi itu untuk mendapatkan penjelasan yang benar.

Aplikasi Pendidikan
Peran pendidikan, menurut Piaget, adalah mendukung riset spontan oleh anak. Eksperimen dengan objek rii dan interaksi dengan teman, yang didukung oleh pertanyaan dari guru, memungkinkan anak untuk mengonstruksi pengetahuan fisika dan logika matematika. Persayaratan utama untuk kurikulum adalah kesempatan yang luas bagi anak untuk berinteraksi dengan dunia fisik melalui berbagai cara, memperbaiki kesalahan mereka, dan mengembangkan jawaban melalui intraksi dengan teman.

Kelemahan dari Teori Piaget
  • Memahami istilah dan definisi dasar yang sulit
  • Kurikulum Piagetian sulit diimplementasikan dan dipertahankan
  • Persepektifnya mengesampingkan relasi antara pemikiran logis dan belajar dasar, seperti membaca.

Daftar Pustaka :
Gredler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana